Original caption
Wike Saputri (40) dan sang anak menangis saat buaya Coki dievakuasi petugas Damkarmat yang mengenakan pakaian lengkap biru dan merah serta sarung tangan dan helm. Wanita berkulit putih ini tampak duduk di kursi ruang tamu sementara putrinya bersandar di kusen pintu menyaksikan proses evakuasi yang berlangsung dramatis tersebut. Wike Saputri tampak berat melepaskan hewan yang dirawatnya sejak masih dalam telur. Raut wajah Wike tampak tegang ketika petugas dari KKP dan Damkar datang ke rumahnya. Sebelumnya, Wike sempat memberi makan Coki dengan ayam potong segar seharga Rp 120 ribu Melalui tangannya Wike menyuapi buaya betina tersebut dan dengan lahapnya sang buaya melahap kepala hingga badan ayam. Hingga puncaknya sekitar pukul 11.00 WIB Coki dievakuasi Rencana penertiban satwa dilindungi tersebut dilakukan petugas untuk menegakkan regulasi konservasi serta mengantisipasi potensi bahaya keamanan di lingkungan masyarakat. Keberadaan buaya yang dipelihara sejak menetas dari telur tersebut memicu ikatan emosional yang mendalam bagi pemiliknya hingga enggan untuk berpisah. Pernyataan serta kesiapan menghadapi proses evakuasi satwa peliharaannya tersebut disampaikan Wike Saputri saat ditemui di kediamannya pada Jumat (25/9/2026). Keberadaan Coki di tengah pemukiman warga berawal dari ketidaksengajaan suami Wike yang menemukan seekor telur misterius di tanah berpasir saat membersihkan tumpahan minyak di kawasan Pelabuhan Petikemas. “Awalnya suami tidak tahu kalau itu telur buaya. Kami bawa pulang dan coba tetaskan sendiri secara otodidak menggunakan metode lampu merah,” ungkap Wike, Jumat (25/9/2026). Setelah dua bulan dierami secara mandiri, telur tersebut akhirnya menetas pada 11 September 2023. Atas dasar kepedulian terhadap kelestarian satwa, Wike dan suaminya memutuskan untuk merawat bayi buaya tersebut. “Kami mendedikasikan diri memelihara Coki demi keberlangsungan hidup habitatnya, jangan sampai punah,” ujat Wike. 📝 Tribun Lampung #wikesaputri #cokibuaya #peliharabuaya #evakuasibuaya #coki